Orkidlah..

Bunga hati berdiri sebelah bunga orkid di MAHA 2010

bunga orkid..berwarna warni..hati2 nanti terpetik bayar mahal ooo..

Leave a Comment

Menjalin Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga

Setiap orang yang telah berkeluarga, tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya. Hal ini sebagai perwujudan rasa cintanya kepada mereka, yang kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah tetapkan pada jiwa setiap manusia. Allah Ta’ala berfirman,

{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ}

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imran:14).

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ}

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghaabun:14).

Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala[1].

Salah Menempatkan Arti Cinta dan Kasih Sayang

Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.

Sewaktu menafsirkan ayat tersebut di atas, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Allah telah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”[2].

Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat kelak. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته، … والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم”

Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya … Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka[3].

Cinta sejati yang abadi

Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak diwujudkan dengan hanya mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Karena pentingnya hal ini, Allah Ta’ala mengingatkan secara khusus kewajiban para kepala keluarga ini dalam firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[4].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”[5].

Demikian juga dalam hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Aliradhiyallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiyallahu ‘anhuma masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[6].

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[7].

Kemudian, hendaknya seorang kepala keluarga menyadari bahwa dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala ini, berarti dia telah mengusahakan kebaikan besar dalam rumah tangga tangganya, yang dengan ini akan banyak masalah dalam keluarganya yang teratasi, baik masalah di antara dia dengan istrinya, dengan anak-anaknya ataupun di antara sesama keluarganya. Bukankah penyebab terjadinya bencana secara umum, termasuk bencana dalam rumah tangga, adalah perbuatan maksiat manusia? Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).

Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan, “Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…[8].

Dan barangsiapa yang mengharapkan cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarganya kekal abadi di dunia sampai di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta dan kasih sayangnya karena Allah semata-semata, serta mengisinya dengan saling menasehati dan tolong menolong dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}

Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya[9].

Lebih daripada itu, dengan melaksanakan perintah Allah ini seorang hamba –dengan izin Allah Ta’ala– akan melihat pada diri istri dan anak-anaknya kebaikan yang akan menyejukkan pandangan matanya dan menyenangkan hatinya. Dan ini merupakan harapan setiap orang beriman yang menginginkan kebaikan bagi diri dan keluarganya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang bertakwa ketika mereka mengucapkan permohonan ini kepada-Nya, dalam firman-Nya,

{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}

Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74).

Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah.Demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala[10].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya pada diri kita sendiri maupun keluarga kita.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Rabi’ul akhir 1430 H

 

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id

 


[1] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/482).

[2] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 637).

[3] HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).

[4] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[5] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).

[6] HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).

[7] Fathul Baari (3/355).

[8] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab “ad-Da-u wad dawaa’” (hal. 68).

[9] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/170).

[10] Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439).

 

Leave a Comment

Nur Insyirah..anak buah baru

Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari pati yang berasal dari tanah. (Pati yang berasal dari tanah, ialah pati makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tanaman yang tumbuh di bumi).Kemudian Kami jadikan pati itu setitis air benih (air mani), pada tempat penetapan yang kukuh. Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi sebuku darah beku lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa ketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa tulang, kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging. Setelah sempurna kejadian itu Kami bentuk ia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya (keadaannya yang asal serta ditiupkan roh padanya). Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik baik Pencipta.Al-Mu’minun:12, 13 & 14.nur insyirah

Alhamdulillah..kakak saya selamat melahirkan anak pertamanya pada 11 Oktober 2009 di Hospital Sungai Buloh. Semoga Nur Insyirah menjadi anak yang solehah dan permata dalam keluarga kakak dan abang.

Comments (2)

Sekitar Gambar Walimah..

Ohh ya..dah lama saya ingin postingkan gambar walimah buat tatapan semua yang sahabat2 yang dikasihi. Saya kongsikan beberapa keping gambar semasa walimah saya bulan Jun lepas. Sekejap sahaja sudah 4 bulan berlalu. Doakan pernikahan kami ini agar mendapat redha dan kasih sayang daripada Allah SWT.  

Leave a Comment

Penghujung Semester

Kursus dilalui semakin menghampiri penghujung semester.  Namun masih banyak perkara yang belum diselesaikan. Ya, kerja-kerja dan tanggungjawab kita melebihi masa yang ada. Minggu ini sahaja, banyak ujian dan tugasan yang perlu dihantar. Pena-pena hijauku semakin hilang sengatnya. Mungkin diselaputi oleh karat dan dosa2 yang diringankan oleh diri ini. Ya Tuhan, betapa lemah hambaMu ini..Benarlah, dosa-dosa itu menggelapkan hati, melemahkan tubuh badan, menghilangkan semangat hidup..Buat zaujahku, semoga tabah mengharungi beban-beban kerja baru di sana. Doaku agar dirimu berjaya melalui saat-saat kesukaran berhadapan tugas dan kehidupan seorang diri tanpa diri ini disisi..Doakan saya disini agar tidak malas-malas lagi.

malas..karat dosa..

malas..karat dosa..

Leave a Comment

Bahagiakan Pasangan Anda

Bahagiakan Pasangan Anda

Tuesday, 26 May 2009 19:01
Tulisan:
Hj Ibrahim Abd Rahman
Ketua Biro Motivasi Pelajaran & Pendidikan Kekeluargaan

Salah satu kebahagiaan adalah ketika melihat orang yang kita cintai bahagia. Kebahagiaan jenis ini tingkatnya lebih tinggi dari kebahagiaan yang bersifat individual. Boleh jadi, ini masuk dalam kategori kebahagiaan sosial.

Tidak mudah untuk memperoleh kebahagiaan jenis ini. Apalagi bagi mereka yang bersifat egois. Semua kebahagiaannya diukur dari kebahagiaan diri sendiri. Orang yang demikian adalah tipikal ‘pemburu kebahagiaan,’ yang justeru tidak pernah menemui kebahagiaan.

Berumah tangga adalah sebuah cara untuk memperoleh kebahagiaan, dengan cara membahagiakan pasangan kita. Isteri atau suami. Mampukah itu terjadi? Mampu, ketika berumah tangga dengan berbekal cinta. Bukan sekadar berburu cinta. Apakah ada bezanya?

Berbekal cinta, bererti kita mencintai pasangan kita. Ingin memberikan sesuatu kepada pasangan agar ia merasa bahagia. Sedangkan berburu cinta, bererti kita menginginkan untuk dicintai. Menginginkan sesuatu dari pasangan kita, sehingga kita merasa bahagia.

Menurut anda, manakah yang lebih baik? Mengejar cinta atau memberikan cinta? Mengejar kebahagiaan ataukah memberikan kebahagiaan? Mengejar kepuasan ataukah memberikan kepuasan? Mana yang bakal membahagiakan, yang pertama ataukah yang kedua?

Ternyata, yang kedua. Mengejar cinta hanya akan mendorong anda untuk berburu sesuatu yang tidak pasti. Yang tidak pernah anda raih. Kerana, keinginan adalah sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Apalagi keserakahan.

Hari ini anda merasa memperoleh cinta dari pasangan anda, maka berikutnya anda akan merasa tidak puas. Dan ingin memperoleh yang lebih dari itu. Sudah memperoleh lagi, berikutnya anda akan ingin lebih lagi.

Ini hampir tak ada bezanya dengan ingin mengejar kesenangan dengan cara memiliki kereta atau rumah. Ketika kita masih miskin, kita mengira akan senang memiliki motorsikal berharga 2-3 ribu ringgit. Kita berusaha mengejarnya. Lantas memperolehnya. Dan kita memang senang.

Tapi, tak berapa lama kemudian, kita menginginkan untuk memiliki kereta yang berharga puluhan ribu. Motorsikal yang telah kita miliki itu tidak lagi menyenangkan, atau apalagi membahagiakan.

Benak kita terus menerus terisi oleh bayangan betapa senangnya memiliki kereta berharga puluhan ribu. Jika kemudian kita MAMPU memenuhi keinginan itu, kita pun merasa senang. Tetapi, ternyata itu tidak lama.
Benak kita bakal segera terisi oleh bayangan-bayangan, betapa senangnya memiliki kereta yang lebih besar dan harganya lebih juga ya. Begitulah seterusnya. Cuba rasakan hal ini dalam kehidupan anda, maka anda akan merasakan dan membenarkannya.

Kesenangan dan kebahagiaan itu bukan anda peroleh dengan cara mengejarnya, melainkan dengan cara merasakan apa yang sudah anda miliki. Dan jika anda mensyukurinya, maka kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya pada perubahan yang datang berikutnya.

Anda tidak perlu mengejar kebahagiaan, kerana anda sudah menggenggamnya. Yang perlu anda lakukan sebenarnya adalah memberikan perhatian kepada apa yang sudah anda miliki. Bukan melihat dan mengejar sesuatu yang belum anda punyai. Semakin anda memberikan perhatian kepada apa yang telah anda miliki, maka semakin terasa nikmatnya memiliki. Jadi, kuncinya bukan mengejar, melainkan memberi. Demikian pula dalam berumah tangga. Jika kita ingin memperoleh kebahagiaan, caranya bukan dengan mengejar kebahagiaan itu. Melainkan dengan memberikan kebahagiaan kepada pasangan kita. Bukan mengejar cinta, melainkan memberikan cinta. Bukan mengejar kepuasan, melainkan memberikan kepuasan.

Maka anda bakal memperoleh kebahagiaan itu dari dua arah. Yang pertama, anda akan memperolehnya dari pasangan anda. Kerana merasa dibahagiakan, ia akan membalas memberikan kebahagiaan. Yang kedua, kebahagiaan itu bakal muncul dari dalam diri anda sendiri. Ketika kita berhasil memberikan kepuasan kepada pasangan kita, maka kita bakal merasa puas. Ketika berhasil memberikan kesenangan kepada partner kita, maka kita pun merasa senang. Dan ketika kita berhasil memberikan kebahagiaan kepada isteri atau suami kita, maka kita pun merasa bahagia.

Ini, nikmatnya bukan main. Jumlah dan kualitinya terserah pada anda. Ingin lebih bahagia, maka bahagiakanlah pasangan anda. Ingin lebih senang, maka senangkanlah pasangan anda lebih banyak lagi. Terserah anda, minta kesenangan, kepuasan, ataupun kebahagiaan sebesar apa. Kerana kuncinya ada di tangan anda sendiri. Semakin banyak memberi semakin nikmat rasanya.

Anda yang terbiasa egois dan mengukur kebahagiaan dari kesenangan peribadi, akan perlu waktu untuk menyelami dan merenungkan kalimat-kalimat di atas.

Contoh yang lebih konkrit adalah perkahwinan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Perkahwinan semacam ini sungguh membuat menderita pihak yang tidak mencintai. Padahal ia dicintai. Segala keperluannya dipenuhi oleh pasangannya. Katakanlah ia pihak wanita. Segala keperluan sang wanita selalu dipenuhi oleh suaminya. Rumah ada. Kereta tersedia. Pakaian, perhiasan, dan segala keperluan semuanya tercukupi. Tetapi ia tidak pernah merasa bahagia. Kenapa? Kerana tidak ada cinta di hatinya.

Sebaliknya, sang suami merasa bahagia, kerana ia mencintai isterinya. Ia merasa senang dan puas ketika mapu membelikan rumah. Ia juga merasa senang dan puas ketika mampu membelikan kereta.

Dan ia senang serta puas ketika mampu memenuhi segala keperluan isteri yang dicintainya itu. Semakin cinta ia, dan semakin banyak ia memberikan kepada isterinya, maka semakin bahagialah sang suami. Kalau ia benar-benar cinta kepada isterinya, maka ukuran kebahagiaannya berada pada kebahagiaan si isteri. Jika isterinya bahagia, ia pun merasa bahagia. Jika isterinya menderita, maka ia pun merasa menderita.

Akan berbeza halnya, jika si suami tidak mencintai isteri. Ia sekadar menuntut isterinya agar mencintainya. Memberikan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan kepadanya. Ketika semua itu tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia bakal selalu merasa tidak bahagia.

Sebaliknya, jika isteri tersebut kemudian mampu mencintai suaminya – kerana kebaikan yang diberikan terus menerus kepadanya – maka si isteri itu juga bakal memperoleh kebahagiaan kerananya.

Pelayanan yang tadinya dilakukan dengan terpaksa terhadap suaminya, kini berganti dengan rasa ikhlas dan cinta. Tiba-tiba saja dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terkira.

Kalau dulu ia memasakkan suami dengan rasa enggan dan terpaksa, misalnya, kini ia melakukan dengan senang hati dan berbunga-bunga. Kalau dulu ia merasa tersiksa ketika melayani suami di tempat tidur, kini ia merasakan cinta yang membara.

Ya, tiba-tiba saja semuanya jadi terasa berbeza. Penuh nikmat dan bahagia. Padahal seluruh aktiviti yang dia lakukan sama saja. Apakah yang membezakannya? Rasa cinta!

Ketika ‘berbekal cinta’, semakin banyak ia memberi, semakin banyak pula rasa bahagia yang diperolehnya. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa yang bahagia itu sebenarnya bukanlah orang yang dicintai, melainkan orang yang mencintai. Orang yang sedang jatuh cinta…

Kerana itu keliru kalau kita ingin dicintai. Yang harus kita lakukan adalah mencintai pasangan. Semakin besar cinta kita kepadanya, semakin bahagia pula kita kerananya. Dan yang ke dua, semakin banyak kita memberi untuk kebahagiaan dia, maka semakin bahagialah kita….

Begitulah mestinya rumah tangga kita. Bukan saling menuntut untuk dibahagiakan, melainkan saling memberi untuk membahagiakan. Kerana di situlah kunci kebahagiaan yang sebenar-benarnya memberikan kebahagiaan.

http://www.haluan.org.my/v3/index.php/bahagiakan-pasangan-anda.html

Comments (1)

Jangan kejam dengan ayam..

Hmm.sebelum ini selalu aku membantu memegang kaki ayam ketika ayam disembelih. Sekarang aku perlu laksanakan sembelihan sendiri secara amali. Ini adalah satu subjek amali yang menarik untuk dipelajari oleh bakal guru di IPGM. Alhamdulillah, ramai yang berjaya menjalani amali ini. Ada yang menangis tidak mahu menyembelih ayam. Jika tidak mahu sembelih, bagaimana sih mau makannya.hehehe..Di sini, pusat sembelihan ayam yang diiktiraf halal tidak banyak. Yang paling popular di bandar Miri ini ialah Ayam Haji Mos. Beliau menguasai perniagaan ayam halal disini. Memang kaya orangnya tetapi tidak sombong. Walaupun sudah menjadi bos, beliau sendiri yang memandu lori ke sana sini, masih seperti awal pembukaan perniagaannya.  Ayam yang kami sembelih dimasak di dapur surau dan dijamu untuk seluruh penghuni asrama. Alhamdulillah.. 

Pesanan: Jangan kejam dengan ayam. jangan sampai putus kepalanya.huhu..Mujur ayam yang aku sembelih tidak putus kepala dan halal untuk dimakan.

Comments (2)

Doa dan harapan pernikahanku..

saya dan zaujah

 Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan pernikahan kami pernikahan yang diredhai olehMu,

Jadikah pernikahan ini sebagai jalan untuk kami mendekatiMu, pembuka pintu rahmat bagi kami, tempat kami belajar bersyukur dan bersabar, madrasah untuk kami menuntut ilmu untuk memahami kehidupan dengan lebih bermakna. Ya Allah, ya Rahman ya Rahim..Engkau titipkanlah hati-hati kami dengan sifat rahman dan rahim, saling mempercayai, benar dan membenarkan, jadikan kami suami isteri yang saling mencintai, saling menjaga kehormatan di kala berjauhan, menghibur di kala berduka, menyempurnakan kekurangan antara satu sama lain..

Ya Allah ya Rabbul Jalil, kurniakan kami kekuatan dalam menghadapi ujian-ujian hidup di dunia yang fana ini. Kau bulatkan hati kami Ya Allah, untuk berdiri di atas jalanMu yang lurus ini, janganlah Engkau membolak-balikkan hati kami setelah kami mengenal jalanMu yang lurus ini. Ya Allah, yang Maha Pengampun. Ampunilah dosa kami, sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengampun dosa-dosa besar.

p/s: Jutaan terima kasi, jzkkk kepada seluruh ahli keluarga, sahabat dan kenalan kami yang telah bersama menjayakan dan memeriahkan majlis walimah kami. Alhamdulillah..kami mendoakan kalian sentiasa beroleh rahmat dan barokah daripada Allah SWT.

Comments (2)

Kebahagiaan Itu Mudah Di Raih

Oleh Dr ‘Aidh bin Abdullah Al-Qarni

Di antara nikmat terbesar adalah kegembiraan, ketenteraman dan ketenangan hati. Ini adalah kerana, di dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan fikir, produktiviti yang bagus, dan keriangan jiwa. Ramai orang mengatakan: “Kegembiraan merupakan seni yang dapat dipelajari.” Barangsiapa yang mengetahui cara menghasilkannya, tentu akan merasa mudah meraihnya dan dapat memanfaatkan pelbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, serta mampu menjadikan apa yang berada disekitarnya sebagai sarana dalam mencapai kebahagiaan hidup. Adapun perkara utama untuk meraih kebahagiaan adalah dengan meningkatkan daya ketahanan jiwa raga, tidak mudah goyah oleh goncangan-goncangan, tidak gentar dengan berbagai peristiwa yang menerpa, dan tidak sibuk memikirkan perkara-perkara yang kecil dan remeh. Begitulah, semakin kuat dan jernih hati seseorang, maka akan semakin bersinar pula jiwanya.

Hati yang sentiasa diliputi kekhuatiran; lemah tekadnya, rendah semangat, dan sering berada di dalam kegelisahan, akan selalu diliputi dengan kecemasan kedukaan dan kesedihan. Oleh sebab itu, barangsiapa membiasakan jiwanya bersikap dengan kesabaran dan tahan terhadap segala perkara yang mencemaskan, nescaya setiap goncangan dan tekanan akan terasa ringan.

Jika seorang pemuda meningkatkan ketahanan diri
Maka segala sesuatu akan berlalu
Dan yang tersisa hanya kebahagiaan…

Di antara musuh utama kegembiraan adalah wawasan yang sempit, pandangan yang cetek, dan egoisme dan sikap melupakan keadaan alam seisinya tanpa mengambil pelajaran daripadanya. Dan Allah menyifatkan musuh-musuhNya sepertimana berikut:

“… mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri…” (Ali-Imran: 154)

Orang-orang yang berfikiran sempit, sentiasa melihat dunia ini menurut perspektif mereka sendiri. Mereka tidak pernah memikirkan pandangan orang lain, mereka merasai hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, dan sama sekali tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Sesungguhnya di antara saya dan anda terkadang harus memperhatikan, tetapi suatu saat kita perlu menyisihkan waktu untuk menyibukkan diri dengan sesuatu kepentingan yang harus kita lakukan secara peribadi dan menjauhkan diri dari orang lain untuk menyembuhkan luka, dukacita, dan kesedihan kita. Maka dengan demikian, kita akan memperolehi dua perkara sekaligus iaitu kebahagiaan diri dan kebahagiaan orang lain.

Suatu perkara utama yang perlu anda lakukan dalam meraih seni kebahagiaan ialah bagaimana mengendalikan diri dan menjaga fikiran anda. Sekiranya fikiran anda tidak dikendalikan, tentu fikiran anda akan terbawa ke mana-mana, begitu juga fail kesedihan yang tersimpan di dalam fikiran anda terbuka kembali dan buku kesedihan yang telah tertulis sejak anda dilahirkan dari perut ibu akan terbaca kembali. Sesungguhnya fikiran liar yang tidak terkendali itu hanya akan menghidupkan kembali luka lama, bahkan juga mencemaskan masa hadapan. Ia juga dapat membuatkan tubuh gementar, melenyapkan jati diri, dan perasaan terbakar. Oleh kerana itu, kendalikan fikiran anda  ke arah yang baik dan mengarah pada perbuatan bermanfaat.

“Dan, bertawakkallah kepada Dzat Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati…” (Al-Furqan: 58)

Perkara utama yang juga penting dalam mempelajari seni kegembiraan adalah bahawa anda harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan keadaannya yang sebenar. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus diwaspadai kerana dunia ini adalah pusat terjadinya segala kekejian, kepedihan dan bencana. Jika demikianlah sifat-sifat dunia, maka mengapa ia harus diberikan perhatian dan bersedih di atas kehilangannya? Keindahan hidup di dunia ini seringkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apa yang terlahir pasti akan lenyap, orang yang menjadi tuan di dunia akan didengki, dan orang yang mendapat nikmat akan dibenci, dan kekasih tercinta suatu ketika akan membunuh dengan kepergiannya.

Bapa kami membangun ummah
sedang kami adalah penghuninya
Setiap saat terdengar burung gagak.
Kami menangis di dunia ini
dan tidak terikat dengannya
sedangkan bagi mereka
dunia telah mengumpulkan mereka
dan tidak terpisahkan.
Lantas di manakah
para penguasa yang sombong itu.
Mereka mengumpulkan harta
seolah akan dibawa mati.
Mereka tidak menyisakan buat orang lain
yang hidup dalam kesempitan.
Begitu terus sehingga tubuh dihimpit tanah
dalam liang lahad.
Mereka membisu dalam kesombongan
seolah tidak tahu sama sekali.
Sesungguhnya setiap kalimah mereka
adalah kemutlakan yang harus dituruti.

Dalam sebuah hadith disebutkan:

“Sesungguhnya ilmu itu didapati hanya dengan cara mempelajari; dan keramahan itu diperolehi dengan cara membiasakan bersikap sopan.”

Dalam ilmu peradaban disebutkan bahawa kegembiraan itu tidak datang begitu sahaja; harus diusahakan dan dipenuhi segala sesuatu yang menjadi prasyaratnya. Lebih dari itu, untuk mencapai kebahagiaan anda harus menahan diri dari sesuatu yang tidak bermanfaat. Begitulah cara membina jiwa agar sentiasa bersedia di ajak mencari kebahagiaan.

Kehidupan dunia ini sebenarnya tidak berhak membuat kita bermuram durja, mengeluh dan lemah semangat. Sebuah syair mengatakan:

Hukum kematian telah berlangsung di muka bumi
Apalah dunia ini dibanding dengan rumah nanti
Saat kau melihat manusia di dalamnya bercerita
Kau kumpulkan cerita dari berbagai sumber cerita
Cerita itu kau cetak di atas kotoran
Sedang kau menginginkannya suci dari segala debu dan kotoran
Mengumpulkan hari-hari
adalah berlawanan dengan sifat alaminya
sama dengan meminta bara api di genangan air
Bila kau mengharapkan kemustahilan
kau telah membangunkan harapan
di tepi jurang yang runtuh
Usirlah keraguan yang ada di dirimu secepatnya
Kehidupan yang kau miliki
adalah selembut dari berberapa lembaran
Mereka berpacu mengejar kuda perkasa
bergegas agar dapat kembali
sampai mereka cacat
Tidak mungkin kau meraih kejayaan
dalam suatu zaman
jika kau menyerah
sebab watak zaman adalah melawan kebebasan

Dan pada hakikatnya, anda tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh kesedihan, kerana kehidupan dunia ini memang diciptakan penuh dengan kesedihan.

“Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah.” (Al-Balad: 4)

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setitis mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya…” (Al-Insaan: 2)

“…supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya…” (Al-Mulk: 2)

Namun demikian, hal ini tidaklah beerti anda harus tenggelam dalam kesedihan. Usahakanlah agar kesedihan, kecemasan dan kedukaan anda itu dapat dikurangkan dan lebih ringan dirasakan. Adapun tempat yang tiada kesedihan sama sekali hanyalah disyurga yang penuh dengan kenikmatan. Oleh kerana itu, orang-orang yang memperolehi nikmat di dalam syurga berkata:

“…segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dukacita dari kami…” (Fathir: 34)

Ini merupakan dalil bahawa kesedihan tidak akan lenyap dari seseorang kecuali apabila kita sudah berada disyurga kelak (Amin). Demikian juga kebencian tidak akan lenyap kecuali setelah manusia masuk syurga.

“Dan, Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka…” (Al-Hijr: 47)

Maka barangsiapa mengetahui keadaan kehidupan dunia dan sifatnya, nescaya ia akan dapat menghadapi setiap rintangan dan menyikapi tabiatnya yang kasar dan pengecut itu. Dan kemudian, ia akan menyedari bahawa memang demikianlah sifat dan tabiat dunia itu.

Kenikmatan dunia seperti bersumpah
bahawa dia tidak akan berkhianat
Seolah-olah dunia mengatakan
bahawa dia tidak mungkin akan binasa.

Jika benar dunia seperti yang kita gambarkan di atas, segala urusan seperti yang telah kami sebutkan, sebaiknya kita menyaring segala sesuatu yang ada di dunia ini agar kita tidak terpengaruh olehnya. Dengan demikian, kita tidak menyerah terhadap dunia yang penuh dengan kekotoran, kecemasan, kedukaan dan kesedihan. Bahkan sebaliknya, mereka harus melawan semuanya itu dengan seluruh kekuatan yang telah Allah kurniakan kepadanya.

“Dan, siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (Al-Anfal: 60)

“…mereka tidak  menjadi lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).” (Ali-Imran: 146)

RENUNGAN

Jangan bersedih, sekiranya anda hidup miskin, betapapun masih terdapat orang di sekeliling anda yang hidup dililit hutang! Jangan bersedih kerana tidak mempunyai kenderaan, sebab masih ramai orang di sekeliling anda yang kakinya kudung. Jangan bersedih kerana suatu penyakit, betapapun masih ramai orang selain anda yang mungkin telah bertahun-tahun terbaring di atas katil. Jangan bersedih kerana anda kehilangan seorang anak, sebab masih ada orang lain yang telah kehilangan beberapa anaknya dalam suatu kecelakaan sekaligus.

Jangan bersedih, kerana anda seorang muslim yang beriman kepada Allah, para rasulNya, malaikatNya, kitab-kitabNya, hari qiamat dan qadha’ serta qadar yang baik dan yang buruk! Kerana, masih ramai orang kafir yang mengingkari Allah, mendustakan rasul-rasulNya, menyimpang dari ajaran kitab suci, dan mengingkari hari qiamat, serta tidak mempercayai qadha’ dan qadar.

Jangan bersedih! Sekiranya anda telah berbuat dosa, segeralah bertaubat; sekiranya anda telah melakukan kejahatan, mintalah keampunanNya; dan sekiranya anda telah melakukan kesalahan, perbaikilah kesalahan itu. Bagaimanapun, rahmat dan kasih sayang Allah itu teramat luasnya, pintu rahmatNya terbuka luas dan keampunanNya sentiasa melimpah-ruah dan taubat yang anda lakukan pasti diterima.

Jangan bersedih, kerana (dengan izin Allah) anda sendirilah yang menggerakkan saraf anda, mengubah keadaan anda, meletihkan hati anda mengganggu tidur anda dan membangunkan malam-malam anda (qiyamullail).

Seoang penyair berkata:

Terkadang bencana
membuat sesak dada seorang pemuda
sedang hanya Allah yang Memiliki jalan keluar
Setiap peristiwa terasa berperanan
dalam menyesakkan dadanya
Sehingga ia mengira tidak ada jalan keluar dari bencana itu…

Comments (1)

Cara Rasullullah mengelak dan menyembuhkan penyakit

CARA-cara Rasulullah S. A. W. mengelak dan menyembuhkan penyakit, seperti yang dipetik dari sebuah buku.

PENYEBAB ROSAKNYA BADAN

Perkara yang menyebabkan rosaknya badan Iaitu perasaan runsing, gelisah, lapar dan tidak tidur malam (bukan tujuan Qiyamullail)

MENERANGKAN PENGLIHATAN

Perkara yang boleh menerangkan pandangan dan menyejukkan hati iaitu melihat pada warna hijau, melihat air yang mengalir, melihat orang/barang yang disayangi dan melihat buah (dedaun).

Perkara yang boleh menggelapkan pandangan iaitu berjalan tanpa alas (berkaki ayam), menyambut waktu pagi dengan wajah murka (masam), banyak menangis dan banyak membaca tulisan yang kecil-kecil.

PENYEBAB WAJAH BERSINAR

Perkara yang boleh menyebabkan wajah kelihatan kering (hilang cahaya) iaitu berdusta, tidak mempunyai perasaan malu, banyak bertanya tanpa ilmu dan banyak berbuat dosa.

Perkara yang boleh menyebabkan wajah bersinar iaitu menjaga maruah, jujur, dermawan dan takwa.

PERASAAN BENCI

Perkara yang menyebabkan perasaan benci iaitu sombong, dengki, berdusta dan suka mengadu domba.

PERKARA YANG MENDATANGKAN DAN MENYEKAT REZEKI

Perkara yang boleh menyebabkan datangnya rezeki iaitu Qiyamullail (beribadah di waktu malam selepas tidur), banyak membaca istighfar di waktu sahur (masa sebelum masuk waktu subuh), bersedekah dan berzikir di waktu pagi dan petang. Perkara yang menyebabkan rezeki tersekat iaitu tidur di waktu pagi, sedikit mengerjakan sembahyang, malas dan khianat.

KEFAHAMAN DAN INGATAN

Perkara yang boleh menyebabkan rosaknya ingatan dan kefahaman iaitu sentiasa makan buah yang masam, tidur pada tengkuk (belakang kepala), hati sedih dan fikiran runsing.

Perkara yang menyebabkan bertambahnya daya ingatan dan kefahaman iaitu kegembiraan hati, sedikit makan dan sedikit minum, mengawal makanan dengan sesuatu yang manis dan berlemak serta mengurangkan kelebihan yang memberatkan badan.

Maksud firman Allah:

Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunaknnya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).

Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raaf: 179).

Kejayaan setiap manusia adalah dalam agama (Islam). Sejauh mana ia taat kepada Allah, Ikut sunnah Nabi SAW.

Ali bin Abi Thalib r.a berkata,’ketahuilah bahawa sesungguhnya sabar itu laksana kepala bagi jasad. Jika kepala diputuskan tiada gunanya jasad ini’

Tambahnya dengan nada tegas,’Sesungguhnya tiada iman bagi seseorang yang tidak memiliki kesabaran.’

KIRIMAN ANIS KHAIRINA

mstar.com.my

Jumaat Mei 29, 2009

Leave a Comment

Older Posts »