Archive for Pemikiran Islam

Menjalin Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga

Setiap orang yang telah berkeluarga, tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya. Hal ini sebagai perwujudan rasa cintanya kepada mereka, yang kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah tetapkan pada jiwa setiap manusia. Allah Ta’ala berfirman,

{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ}

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imran:14).

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ}

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghaabun:14).

Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala[1].

Salah Menempatkan Arti Cinta dan Kasih Sayang

Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.

Sewaktu menafsirkan ayat tersebut di atas, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Allah telah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”[2].

Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat kelak. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته، … والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم”

Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya … Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka[3].

Cinta sejati yang abadi

Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak diwujudkan dengan hanya mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Karena pentingnya hal ini, Allah Ta’ala mengingatkan secara khusus kewajiban para kepala keluarga ini dalam firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[4].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”[5].

Demikian juga dalam hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Aliradhiyallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiyallahu ‘anhuma masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[6].

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[7].

Kemudian, hendaknya seorang kepala keluarga menyadari bahwa dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala ini, berarti dia telah mengusahakan kebaikan besar dalam rumah tangga tangganya, yang dengan ini akan banyak masalah dalam keluarganya yang teratasi, baik masalah di antara dia dengan istrinya, dengan anak-anaknya ataupun di antara sesama keluarganya. Bukankah penyebab terjadinya bencana secara umum, termasuk bencana dalam rumah tangga, adalah perbuatan maksiat manusia? Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).

Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan, “Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…[8].

Dan barangsiapa yang mengharapkan cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarganya kekal abadi di dunia sampai di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta dan kasih sayangnya karena Allah semata-semata, serta mengisinya dengan saling menasehati dan tolong menolong dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}

Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya[9].

Lebih daripada itu, dengan melaksanakan perintah Allah ini seorang hamba –dengan izin Allah Ta’ala– akan melihat pada diri istri dan anak-anaknya kebaikan yang akan menyejukkan pandangan matanya dan menyenangkan hatinya. Dan ini merupakan harapan setiap orang beriman yang menginginkan kebaikan bagi diri dan keluarganya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang bertakwa ketika mereka mengucapkan permohonan ini kepada-Nya, dalam firman-Nya,

{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}

Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74).

Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah.Demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala[10].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya pada diri kita sendiri maupun keluarga kita.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Rabi’ul akhir 1430 H

 

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id

 


[1] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/482).

[2] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 637).

[3] HSR al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829).

[4] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[5] Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640).

[6] HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069).

[7] Fathul Baari (3/355).

[8] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab “ad-Da-u wad dawaa’” (hal. 68).

[9] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/170).

[10] Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439).

 

Advertisements

Leave a Comment

Kebahagiaan Itu Mudah Di Raih

Oleh Dr ‘Aidh bin Abdullah Al-Qarni

Di antara nikmat terbesar adalah kegembiraan, ketenteraman dan ketenangan hati. Ini adalah kerana, di dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan fikir, produktiviti yang bagus, dan keriangan jiwa. Ramai orang mengatakan: “Kegembiraan merupakan seni yang dapat dipelajari.” Barangsiapa yang mengetahui cara menghasilkannya, tentu akan merasa mudah meraihnya dan dapat memanfaatkan pelbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, serta mampu menjadikan apa yang berada disekitarnya sebagai sarana dalam mencapai kebahagiaan hidup. Adapun perkara utama untuk meraih kebahagiaan adalah dengan meningkatkan daya ketahanan jiwa raga, tidak mudah goyah oleh goncangan-goncangan, tidak gentar dengan berbagai peristiwa yang menerpa, dan tidak sibuk memikirkan perkara-perkara yang kecil dan remeh. Begitulah, semakin kuat dan jernih hati seseorang, maka akan semakin bersinar pula jiwanya.

Hati yang sentiasa diliputi kekhuatiran; lemah tekadnya, rendah semangat, dan sering berada di dalam kegelisahan, akan selalu diliputi dengan kecemasan kedukaan dan kesedihan. Oleh sebab itu, barangsiapa membiasakan jiwanya bersikap dengan kesabaran dan tahan terhadap segala perkara yang mencemaskan, nescaya setiap goncangan dan tekanan akan terasa ringan.

Jika seorang pemuda meningkatkan ketahanan diri
Maka segala sesuatu akan berlalu
Dan yang tersisa hanya kebahagiaan…

Di antara musuh utama kegembiraan adalah wawasan yang sempit, pandangan yang cetek, dan egoisme dan sikap melupakan keadaan alam seisinya tanpa mengambil pelajaran daripadanya. Dan Allah menyifatkan musuh-musuhNya sepertimana berikut:

“… mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri…” (Ali-Imran: 154)

Orang-orang yang berfikiran sempit, sentiasa melihat dunia ini menurut perspektif mereka sendiri. Mereka tidak pernah memikirkan pandangan orang lain, mereka merasai hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, dan sama sekali tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Sesungguhnya di antara saya dan anda terkadang harus memperhatikan, tetapi suatu saat kita perlu menyisihkan waktu untuk menyibukkan diri dengan sesuatu kepentingan yang harus kita lakukan secara peribadi dan menjauhkan diri dari orang lain untuk menyembuhkan luka, dukacita, dan kesedihan kita. Maka dengan demikian, kita akan memperolehi dua perkara sekaligus iaitu kebahagiaan diri dan kebahagiaan orang lain.

Suatu perkara utama yang perlu anda lakukan dalam meraih seni kebahagiaan ialah bagaimana mengendalikan diri dan menjaga fikiran anda. Sekiranya fikiran anda tidak dikendalikan, tentu fikiran anda akan terbawa ke mana-mana, begitu juga fail kesedihan yang tersimpan di dalam fikiran anda terbuka kembali dan buku kesedihan yang telah tertulis sejak anda dilahirkan dari perut ibu akan terbaca kembali. Sesungguhnya fikiran liar yang tidak terkendali itu hanya akan menghidupkan kembali luka lama, bahkan juga mencemaskan masa hadapan. Ia juga dapat membuatkan tubuh gementar, melenyapkan jati diri, dan perasaan terbakar. Oleh kerana itu, kendalikan fikiran anda  ke arah yang baik dan mengarah pada perbuatan bermanfaat.

“Dan, bertawakkallah kepada Dzat Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati…” (Al-Furqan: 58)

Perkara utama yang juga penting dalam mempelajari seni kegembiraan adalah bahawa anda harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan keadaannya yang sebenar. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus diwaspadai kerana dunia ini adalah pusat terjadinya segala kekejian, kepedihan dan bencana. Jika demikianlah sifat-sifat dunia, maka mengapa ia harus diberikan perhatian dan bersedih di atas kehilangannya? Keindahan hidup di dunia ini seringkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apa yang terlahir pasti akan lenyap, orang yang menjadi tuan di dunia akan didengki, dan orang yang mendapat nikmat akan dibenci, dan kekasih tercinta suatu ketika akan membunuh dengan kepergiannya.

Bapa kami membangun ummah
sedang kami adalah penghuninya
Setiap saat terdengar burung gagak.
Kami menangis di dunia ini
dan tidak terikat dengannya
sedangkan bagi mereka
dunia telah mengumpulkan mereka
dan tidak terpisahkan.
Lantas di manakah
para penguasa yang sombong itu.
Mereka mengumpulkan harta
seolah akan dibawa mati.
Mereka tidak menyisakan buat orang lain
yang hidup dalam kesempitan.
Begitu terus sehingga tubuh dihimpit tanah
dalam liang lahad.
Mereka membisu dalam kesombongan
seolah tidak tahu sama sekali.
Sesungguhnya setiap kalimah mereka
adalah kemutlakan yang harus dituruti.

Dalam sebuah hadith disebutkan:

“Sesungguhnya ilmu itu didapati hanya dengan cara mempelajari; dan keramahan itu diperolehi dengan cara membiasakan bersikap sopan.”

Dalam ilmu peradaban disebutkan bahawa kegembiraan itu tidak datang begitu sahaja; harus diusahakan dan dipenuhi segala sesuatu yang menjadi prasyaratnya. Lebih dari itu, untuk mencapai kebahagiaan anda harus menahan diri dari sesuatu yang tidak bermanfaat. Begitulah cara membina jiwa agar sentiasa bersedia di ajak mencari kebahagiaan.

Kehidupan dunia ini sebenarnya tidak berhak membuat kita bermuram durja, mengeluh dan lemah semangat. Sebuah syair mengatakan:

Hukum kematian telah berlangsung di muka bumi
Apalah dunia ini dibanding dengan rumah nanti
Saat kau melihat manusia di dalamnya bercerita
Kau kumpulkan cerita dari berbagai sumber cerita
Cerita itu kau cetak di atas kotoran
Sedang kau menginginkannya suci dari segala debu dan kotoran
Mengumpulkan hari-hari
adalah berlawanan dengan sifat alaminya
sama dengan meminta bara api di genangan air
Bila kau mengharapkan kemustahilan
kau telah membangunkan harapan
di tepi jurang yang runtuh
Usirlah keraguan yang ada di dirimu secepatnya
Kehidupan yang kau miliki
adalah selembut dari berberapa lembaran
Mereka berpacu mengejar kuda perkasa
bergegas agar dapat kembali
sampai mereka cacat
Tidak mungkin kau meraih kejayaan
dalam suatu zaman
jika kau menyerah
sebab watak zaman adalah melawan kebebasan

Dan pada hakikatnya, anda tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh kesedihan, kerana kehidupan dunia ini memang diciptakan penuh dengan kesedihan.

“Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah.” (Al-Balad: 4)

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setitis mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya…” (Al-Insaan: 2)

“…supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya…” (Al-Mulk: 2)

Namun demikian, hal ini tidaklah beerti anda harus tenggelam dalam kesedihan. Usahakanlah agar kesedihan, kecemasan dan kedukaan anda itu dapat dikurangkan dan lebih ringan dirasakan. Adapun tempat yang tiada kesedihan sama sekali hanyalah disyurga yang penuh dengan kenikmatan. Oleh kerana itu, orang-orang yang memperolehi nikmat di dalam syurga berkata:

“…segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dukacita dari kami…” (Fathir: 34)

Ini merupakan dalil bahawa kesedihan tidak akan lenyap dari seseorang kecuali apabila kita sudah berada disyurga kelak (Amin). Demikian juga kebencian tidak akan lenyap kecuali setelah manusia masuk syurga.

“Dan, Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka…” (Al-Hijr: 47)

Maka barangsiapa mengetahui keadaan kehidupan dunia dan sifatnya, nescaya ia akan dapat menghadapi setiap rintangan dan menyikapi tabiatnya yang kasar dan pengecut itu. Dan kemudian, ia akan menyedari bahawa memang demikianlah sifat dan tabiat dunia itu.

Kenikmatan dunia seperti bersumpah
bahawa dia tidak akan berkhianat
Seolah-olah dunia mengatakan
bahawa dia tidak mungkin akan binasa.

Jika benar dunia seperti yang kita gambarkan di atas, segala urusan seperti yang telah kami sebutkan, sebaiknya kita menyaring segala sesuatu yang ada di dunia ini agar kita tidak terpengaruh olehnya. Dengan demikian, kita tidak menyerah terhadap dunia yang penuh dengan kekotoran, kecemasan, kedukaan dan kesedihan. Bahkan sebaliknya, mereka harus melawan semuanya itu dengan seluruh kekuatan yang telah Allah kurniakan kepadanya.

“Dan, siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (Al-Anfal: 60)

“…mereka tidak  menjadi lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).” (Ali-Imran: 146)

RENUNGAN

Jangan bersedih, sekiranya anda hidup miskin, betapapun masih terdapat orang di sekeliling anda yang hidup dililit hutang! Jangan bersedih kerana tidak mempunyai kenderaan, sebab masih ramai orang di sekeliling anda yang kakinya kudung. Jangan bersedih kerana suatu penyakit, betapapun masih ramai orang selain anda yang mungkin telah bertahun-tahun terbaring di atas katil. Jangan bersedih kerana anda kehilangan seorang anak, sebab masih ada orang lain yang telah kehilangan beberapa anaknya dalam suatu kecelakaan sekaligus.

Jangan bersedih, kerana anda seorang muslim yang beriman kepada Allah, para rasulNya, malaikatNya, kitab-kitabNya, hari qiamat dan qadha’ serta qadar yang baik dan yang buruk! Kerana, masih ramai orang kafir yang mengingkari Allah, mendustakan rasul-rasulNya, menyimpang dari ajaran kitab suci, dan mengingkari hari qiamat, serta tidak mempercayai qadha’ dan qadar.

Jangan bersedih! Sekiranya anda telah berbuat dosa, segeralah bertaubat; sekiranya anda telah melakukan kejahatan, mintalah keampunanNya; dan sekiranya anda telah melakukan kesalahan, perbaikilah kesalahan itu. Bagaimanapun, rahmat dan kasih sayang Allah itu teramat luasnya, pintu rahmatNya terbuka luas dan keampunanNya sentiasa melimpah-ruah dan taubat yang anda lakukan pasti diterima.

Jangan bersedih, kerana (dengan izin Allah) anda sendirilah yang menggerakkan saraf anda, mengubah keadaan anda, meletihkan hati anda mengganggu tidur anda dan membangunkan malam-malam anda (qiyamullail).

Seoang penyair berkata:

Terkadang bencana
membuat sesak dada seorang pemuda
sedang hanya Allah yang Memiliki jalan keluar
Setiap peristiwa terasa berperanan
dalam menyesakkan dadanya
Sehingga ia mengira tidak ada jalan keluar dari bencana itu…

Comments (1)

Bedah Buku: Petunjuk Sepanjang Zaman

Pada mulanya saya fikir sukar menemui karya-karya tokoh gerakan Islam di Pusat Sumber IPGM Kampus Sarawak Miri ini. Alhamdulillah, saya temui salah satu buku yang menarik sebagai bahan tugasan. Inilah karya Assyahid Syeq Qutb, bertajuk ‘Petunjuk Sepanjang Jalan’. Syed Qutb merupakan seorang figur gerakan Islam yang dikagumi oleh kawan dan lawan. Beliau merupakan anak murid kepadAs-Syahid Hassan al-Banna, tokoh gerakan Ikhwaanul Muslimin di Mesir. Buku ini adalah khazanah yang sangat berharga untuk tatapan muslim, khususnya pemuda pemudi yang mendukung gerakan Islam kerana ia membangkit semangat jihad menegakkan kebenaran dan mepetunjuk sepanjang jalannentang kemungkaran. Dalam konteks Malaysia, bukanlah bermaksud berjihad dengan mengangkat senjata, tetapi lebih kepada memahami semangat jihad melalui syahadah yang diucapkan. Antara tulisan Syed Qutb dalam buku ini ialah:

  1. “Sistem Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w wajib dilaksanakan oleh penganut agama Islam, sebagai membuktikan syahadah yang diucapkan. Selain tuntutan ibadat, perlaksanaan aspek lain untuk menegakkan syahadah sangat banyak. Di antaranya dengan menjadikan sistem dan peraturan Allah sebagai panduan hidup manusia. Kerana yang demikianlah erti yang paling dekat dari persaksian (syahadah): Laa ilaaha illallah (Syed Qutb,1988).
  2. Agama yang secara berterusan meng-Esakan Allah SWT dalam segi ibadah, hanyalah Islam. Demikian pula dalam berakidah tentang Allah sebagai Rabb (Penguasa) dan sebagai pembuat sistem serta peraturan hidup. Maka hanya Islamlah satu-satunya agama yang dapat membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah (Syed Qutb,1988)

Buah fikiran beliau sangat mantap dan sememangnya perlu menjadi bahan yang wajib untuk diteliti oleh setiap yang bergelar muslim khususnya para pejuang di jalan Allah SWT.

Comments (1)

Hadis: Keutamaan Bersedekah

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., ia berkata : “Wahai Rasulullah sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau bersabda : “Kamu bersedekah dan kamu dalam keadaan sehat dan kikir, kamu takut fakir dan mencita-citakan kaya, namun jangan menunda sehingga (nyawamu) sampai di tenggorokan baru kamu katakan : “Untuk Fulan demikian dan Fulan demikian padahal benda itu telah ada pada Fulan.”(HR: Bukhari)

“Dari Aisyah ra. Bahwasanya sebagian isteri Nabi saw. Bertanya kepada Nabi saw. : “Siapakah yang paling segera menyusul engkau?” Beliau menjawab : “Orang yang paling panjang tangannya di antaramu.” Lalu mereka mengambil bambu yang mereka (pergunakan) untuk mengukur hasta mereka, ternyatalah Saudah lah yang tangannya paling panjang. Kemudian kami mengetahui bahwa maksud tangannya panjang adalah sedekah. Dan memang Saudah lah orang yang paling dahulu menyusul beliau, dan ia senang bersedekah.” (HR: Bukhari)

“Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : “?. Dan orang laki-laki yang mensedekahkan sedekah lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan-tangan.”(HR: Bukhari)

“Dari Asma’ ra., ia berkata : Nabi saw. Bersabda kepadaku : “Janganlah kamu menghalangi sedekah sehingga kamu dihalangi rizkimu.” (HR: Bukhari)

“Dari Abadah, ia berkata : Nabi saw. Bersabda : “Janganlah kamu menghitung-hitung maka kamu dihitung-hitung oleh Allah.”(HR: Bukhari)

“Dari Asma’ binti Abu Bakar ra. Bahwasanya ia datang kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda : “Janganlah kamu kikir, maka Allah kikir kepadamu, berilah sesuatu menurut kemampuanmu.”

(HR: Bukhari)

“Dari Hudzaifah ra., ia berkata : Umar ra. Berkata : “Adakah di antara kamu sekalian yang halal (yakni mengingat) hadist Rasulullah saw. Tentang fitnah (cobaan)? Hudzaifah berkata : “Aku mengatakan bahwa akulah yang hafal (ingat) hadist beliau tentang masalah fitnah sebagimana yang disabdakan beliau.” Umar berkata : “Sesungguhnya engkau seorang yang amat berani mengenai hal ini. Jadi bagaimanakah yang beliau sabdakan?” Aku berkata : “Fitnah (cobaan) seseorang terletak pada keluarganya, anaknya dan tetangganya. Fitnah (cobaan) tersebut bisa dihapus dengan mengerjakan shalat, sedekah, serta mengerjakan kebaikan.” Sulaiman berkata : dalam riwayat lain Khudzaifah berkata : “Yang dapat menghapus kesalahan yaitu shalat, sedekah, amar ma’ruf dan nahi mungkar.” Umar berkata : “Bukan itu yang kumaksudkan, tetapi masalah fitnah (cobaan) yang menyebabkan timbulnya kegoncangan bagaikan gelombang besar di lautan.” Hudzaifah berkata : “Aku berkata kepada Umar : “Tidak ada fitnah bagimu, wahai Amirul mu’minin, karena antara engkau dan fitnah bagaikan pintu yang tertutup.” Umar berkata : “Apakah kiranya pintu itu tidak dapat dirusak atau dibuka?” Hudzaifah berkata : “Pintu itu dapat dirusak.” Umar berkata : “Jika pintu itu dapat dirusak tentu tidak mungkin untuk ditutup selama-lamanya.” Hudzaifah berkata : “Aku memberitahukan bahwa memang demikian keadaannya (yakni jika sudah dirusak dan terbuka, tentu tidak dapat ditutup lagi).” Abu Wail berkata : “Kita semua yang pada saat itu dekat dengan Umar merasa takut menanyakan kepada Hudzaifah, lalu siapakah yang menjadi pintunya (yakni siapakah yang sebenarnya yang memulai menimbulkan (fitnah). Kami lalu berkata kepada Masruq : “Bertanyalah kepada Hudzaifah!” Kemudian Masruq bertanya kepada Hudzaifah tentang siapa yang menjadi pintunya, lalu Hudzaifah berkata : “Umar.” Kami berkata lagi : “Jadi Umar telah tahu siapa yang engkau maksudkan?” Hudzaifah berkata : “Ya. Seolah-olah tahunya bahwa sebelum besok itu nantinya akan terjadi waktu malam dulu. Dan hal ini disebabkan aku sudah memberitahukan kepadanya suatu uraian yang tidak mungkin salah.” (HR: Bukhari)

“Dari Hakim bin Hizam ra., ia berkata : Saya berkata : “wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapat engkau tentang sesuatu yang saya lakukan sebagai ibadah pada masa jahiliyah, yakni sedekah, memerdekan hamba sahaya dan silaturahim, apakah berpahala?” Lalu Nabi saw, bersabda : “Kamu telah menyelamatkan kebaikan yang telah lalu.” (HR: Bukhari)

“Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “Apabila seorang perempuan bersedekah dari makanan yang dihasilkan oleh suaminya tanpa membuat kerusakan, maka perempuan itu mendapatkan pahala dan suaminya juga mendapat pahala karena dia yang bekerja. Dan bagi yang menyimpan juga mendapat pahala seperti pahalanya suami isteri itu.” (HR: Bukhari)

“Dari Abu Musa ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : “Penyimpan yang muslim yang terpercaya adalah orang yang melaksanakan.” Barangkali beliau bersabda : “Ia memberikan sesuatu yang diperintahkannya dengan sempurna serta jiwanya baik lalu ia memberikannya kepada sesuatu yang diperintahkan oleh salah seorang dari dua orang yang memberi sedekah.” (HR: Bukhari)

“Dari Aisyah ra., ia berkata : Nabi saw. Bersabda : “Apabila seorang perempuan bersedekah dari rumah suaminya tanpa membuat kerusakan, maka perempuan itu memperoleh pahala, suaminya mendapat pahala seperti isterinya dan penyimpanan mendapat pahala, sebab apa yang telah diusahakan oleh suaminya dan sebab apa yang telah dinafkahkan oleh suaminya.” (HR: Bukhari)

Comments (1)

Agama Adalah Cinta

AGAMA ADALAH CINTA

Puncak tertinggi dalam penghayatan agama bagi seorang

cintailah agama sepenuh hatimu

cintailah ISLAM sepenuh hatimu

muslim adalah cinta

Iman yang teguh kepada Allah dan Rasul dengan sendirinya akan mengantarkan kepada cinta yang sejati. “Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kamu “

Dalam cinta kepada Allah dengan sendirinya timbul pula cinta kepada Rasul. Sebab percaya bahwa Rasul itu utusan Allah untuk menyampaikan wahyu Ilahi kepada manusia dengan sendirinya menumbuhkan cinta kepada Rasul, tidak boleh tidak

Kita mencintai rasul bukan untuk disembah, tetapi untuk dijadikan teladan hidup. Bukan utnuk disamakan dengan Tuhan, melainkan untuk dijadikan orang yang dipercayai menjadi penunjuk jalan kehidupan ini, agar selamat dunia dan akhirat. Dasar dari cinta ini iaalah cita-cita yang tinggi untuk menempuh hidup yang lebih sempurna, lebih mendekati Nabi saw.

Seorang sahabat dan pembantu Nabi, Tsauban, boleh dikata siang malam dia tidak pernah menjauhi Nabi. Hanya ketika Nabi pulang ke rumah istri beliau sajalah, Tsauban terpisah dari beliau. Tetapi pada suatu hari Tsauban datang dengan muka muram, terbayang kedukaan yang tengah meimpa hatinya.

“Engkau mengapa Tsauban ? Kelihatan wajahmu berubah? Engkau muram saja?

Tsauban menjawab: “Wajahku berubah bukan karena sakit, ya Rasulullah! Cuma pikiranku jadi muram memikirkan keadaan ini. Jika aku terpisah agak lama, terasa sepilah hidupku. Baru kesepian itu hilang bila aku ketemu kembali denganmu. Maka aku teringat akan hari akhirat kelak. Cemas aku memikirkan, apakah di akhirat aku masih bertemu dengan engkau ? Karena jika engkau masuk surga niscaya tempat buat engkau adalah tempat yang tertinggi bersama-sama Nabi-nabi dan rasul-rasul. Jika aku diizinkan masuk surga, tentu tempatku jauh di bawah tempat yang disediakan untukmu. Tentu di akhirat nanti kita tidak bertemu lagi… “

Ibu kaum beriman Asiyah ra menceritakan, seorang sahabat Nabi datang kepada beliau lalu berkata:

“Ya Rasulullah! Engkau lebih aku cintai daripada diriku, engkau lebih aku cintai dari kaum kelurgaku, engkau lebih aku cintai daripada anak kandungku. tetapi sedang aku duduk termenung seorang diri dalam rumahku, teringat aku akan engkau. Aku tidak tahan, lalu aku segera datang melihat wajah engkau. Tetapi bila ingat lagi suatu saat yang mesti datang, yaitu jika aku ingat aku akan mati dan engkau akan mati. Aku tahu bahwa jika masuk ke surga engkau akan didudukkan di tempat yang tinggi bersama Nabi-nabi. Tetapi aku, jika Tuhan memasukkan aku pula ke dalam sorga aku takut di waktu itu aku tidak akan melihat engkau lagi. Karena tempatku tentu jauh dibawah tempatmu….”

Kata ahli tafsir, kejadian inilah yang menjadi sebab turun ayat :

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)

Seorang sahabat Syafwan bin Qudamah berkata:

Aku berhijrah bersama Nabi saw ke Madinah. Lalu aku datangi beliau dan aku berkata kepada beliau. “Ulurkan tanganmu ya Rasul, aku hendak membaiat engkau. Lalau beliau mengulurkan tangan. Aku pun berkata, ” Ya Rasulallah, aku sangat mencintaimu”

Lalu Rasul menjawab, “Al-mar-u ma’a man ahabba “(seseorang akan bersama dengan yang dicintainya). Artinya sejak dunia sampai akhirat Syafwan akan beserta Nabi sebab mencintai Nabi.

Ketika bilal bin Rabbah, akan wafat, istrinya menangis dan berkata, ” Wahai sedih hatiku.

Lalu dengan tersenyum Bilal berkata, “Wahai bahagianya hatiku! Besok aku akan berkumpul dengan orang-orang yang aku cintai, Muhammad dan sahabat-sahabatnya”

Menurut Riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra, Nbi bersabda,
Setengah dari umatku yang sangat cinta kepadaku adalah orang-orang yang datang kemudian sepeninggalku. Mereka ingin sekali hendak melihat aku, dengan keluarga dan harta bendanya sekalian”

Dengan hadis ini jelas cinta kepada Nabi itu tidak akan terputus di hati orang-orang beriman hingga akhir zaman. Cinta kepada Allah dalam rangka iman kepada Allah masih akan bernyala selama Al-Quran masih ada. Pembuktian itu adalah dengan berjihad menegakkan agamanya, berjuang mengokohkan hukumnya, melakukan dakwah, walau orang-orang musyrik tidak menyukainya.

(dikutip dari Renungan Tasauf, HAMKA)

Leave a Comment